EMPAT REMAJA MENJADI JURI INTERNASIONAL DI MINIKINO FILM WEEK 5



Youth Jury Camp 2019 telah dilangsungkan selama 3 hari di Mash Denpasar, sejak Jumat (21/6) sampai Minggu (23/6/2019). Youth Jury Camp merupakan program pelatihan penjurian dalam rangkaian acara pra-festival Minikino Film Week 5, Festival Film Pendek Internasional Bali. Dalam kegiatan ini remaja berusia 13 hingga 17 tahun diundang melalui seleksi ketat, untuk kemudian dipersiapkan dengan pembekalan wawasan. Mereka kemudian bertanggung jawab untuk memberi penilaian terhadap film-film pendek Internasional pilihan. Bentuk-bentuk penyaringan peserta ini termasuk kemampuan mereka menyatakan pendapat dalam bahasa Inggris, wawasan mereka terhadap film pendek dan juga kemampuan berbicara di depan publik. Sebelum keputusan penerimaan, calon peserta dan orang tua mereka juga melalui tahap wawancara melalui telepon.

Nama-nama empat peserta Youth Jury Camp tahun ini adalah Qiu Mattane Lao kelas 9 (Bali), Benedictus Richi Tamrin  kelas 3 SMP (Jakarta), Kayla Amare Budiwarman, kelas 11 (Thailand) dan Stella Melody Winata, kelas 10 (Bali). Mewakilkan ke-tiga rekannya, Stella menyatakan dalam bahasa Inggris, ”My love for the arts, film, creating, and learning opportunities. That’s what brought me to the Minikino Youth Jury Camp 2019. I didn’t know what to expect but after 40+ films, it’s safe to say that this experience has cultivated my capacity to analyse films, in a both critical and appreciative perspective.”. Yang bila diterjemahkan kurang lebih adalah,”Kecintaan saya pada seni, film, penciptaan karya dan kesempatan belajar. Inilah yang menghantar saya ke Minikino Youth Jury Camp 2019. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi setelah menonton lebih dari 40 film, rasanya saya bisa memastikan bahwa pengalaman ini mengembangkan kemampuan saya untuk menganalisa film, melalui perspektif kritis dan apresiatif. " Biografi pendek susunan dewan juri dan dewan juri remaja 2019 dapat dilihat selengkapnya di tautan https://minikino.org/filmweek/jury-board-2019/
Masih sama seperti pada tahun sebelumnya, Youth Jury Camp diselenggarakan selama 3 hari secara intensif dari tanggal 21-23 Juni 2019. Di hari pertama para peserta mendapat presentasi tentang sejarah film pendek dan pengenalan dasar seleksi film dalam festival serta programming, diberikan langsung oleh Edo Wulia, selaku Direktur Festival Minikino dan juga salah satu mentor dalam rangkaian pelatihan ini. Setelah istirahat sejenak, pelatihan dilanjutkan dengan pemaparan bertutur visual dari Saifiudin Vifick, seorang visual storyteller dan fotografer profesional yang tahun ini juga didaulat sebagai salah satu dewan penasehatMinikino Film Week 5. Edo Wulia menekankan bahwa semua pemberian materi wawasan ini penting untuk menjadi pondasi dalam apresiasi dan penilaian karya film pendek. Lebih lanjut, untuk memperdalam kesadaran peserta terhadap konteks pendidikan dan kebudayaan yang seringkali tersirat dengan halus, apalagi karya-karya film pendek ini datang dari berbagai negara dengan latar budaya yang mungkin saja belum akrab bagi mereka.
Pada sore hari menjelang petang, program pelatihan dihentikan sejenak. Seluruh peserta, bersama para mentor dan para fasilitator Youth Jury Camp berbaur menjadi satu dan menikmati matahari terbenam Denpasar di rooftop gedung pelatihan sambil menikmati barbeque dan minuman ringan. Suasana terbangun dengan hangat dan menyenangkan, memberi kesempatan para peserta untuk saling mengenal dan bercerita satu sama lain, sembari menikmati makan malam. Pelatihan hari pertama ditutup dengan kegiatan menonton dan diskusi film-film pilihan nominasi Youth Jury Award-MFW 4 tahun lalu.
Hari kedua dimulai pagi hari, diawali dengan pengarahan tata-cara berdiskusi. Fransiska Prihadi, sebagai Direktur Program Minikino Film Week 5 menegaskan kepada peserta, “Tidak diperkenankan menggunakan kata ‘suka’ atau ‘tidak suka’, tapi perlu disampaikan dengan menceritakan pengalaman dan perasaan secara lebih konkrit pada saat menonton sebuah karya film. Setiap alasan maupun argumen, perlu diperkuat dengan referensi adegan atau dialog yang spesifik”. Fransiska juga mendorong para peserta untuk selalu siap menuliskan catatan pada buku yang dibagikan, agar setiap elemen dalam film yang menarik perhatian mereka dapat dikemukakan kembali dalam diskusi. Setelah pembekalan tata cara diskusi, para juri muda memulai sesi menonton . Pendapat dan penilaian yang kritis disampaikan setiap kali waktu jeda, juga untuk saling mendengar dan menanggapi pendapat rekan mereka yang lain. Seluruh sesi menonton dan menilai pada hari ke-dua, berlangsung seharian bahkan sampai melampaui jam makan malam.
Menurut Edo Wulia, “Tantangan terberat mereka sebagai juri, justru ketika berhadapan dengan karya-karya yang rata-rata berkualitas tinggi.  Dan lagi, setiap karya ini memiliki kelebihan dan kekuatannya sendiri. Mereka dituntut mampu memberikan alasan yang jelas dan bertanggung jawab untuk memilih yang ini. Atau juga alasan kenapa tidak memilih yang itu.”
Sesi menonton berlangsung intensif dengan jeda pendek antar film. Kemudian jeda yang lebih panjang diberikan setelah melalui beberapa film sekaligus, untuk memberi kesempatan para juri muda diskusi. Kegiatan menonton dan berdiskusi ini berlangsung sehari penuh, termasuk beberapa kali terjadi perdebatan untuk mempertahankan pendapat yang berbeda.
Hari ketiga jatuh pada hari Minggu, menjadi hari yang menutup rangkaian acara Youth Jury Camp 2019. Setelah secara seremonial, para peserta diresmikan sebagai anggota dewan juri, kemudian acara dilanjutkan dengan makan siang bersama di pantai Sanur. Setiap tahun, sesi pelatihan ini selalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi komite penyelenggara di dalam badan Minikino. I Made Suarbawa selaku direktur eksekutif festival menyampaikan,”Kemampuan para remaja saat ini selalu memberi kejutan pada kami. Bagaimana latar belakang pendidikan dan keluarga yang membentuk mereka tentu saja berperan penting, selain kemajuan teknologi informasi yang mengitari mereka. Mereka menghadapi tantangan-tantangan yang belum pernah dialami generasi sebelumnya, inilah yang membuat mereka jauh lebih siap membangun masa depannya.” Made juga menambahkan bahwa,”Pemahaman lintas generasi ini harus terus diperkuat. Mereka belajar dari kami yang lebih tua. Namun kami pun belajar banyak sekali hal penting dan kritis dari mereka.”
Tahun ini, Minikino Film Week menerima pendaftaran Internasional, hampir mencapai angka 600 judul film dari 62 negara, termasuk Indonesia. Setelah melalui seleksi awal, 45 judul dipertimbangkan sebagai karya yang pantas untuk ditampilkan ke hadapan Youth Jury Camp 2019. Dari seluruh film yang ditampilkan hari kedua ini, para juri muda akhirnya memutuskan lima film pendek yang menurut mereka layak mendapat kehormatan untuk masuk dalam daftar nominasi. Pengumuman judul-judul film nominasi dalam kategori International Youth Jury Award tahun ini akan dipublikasikan pada tanggal 1 Juli 2019 mendatang dan satu pemenang utama akan diputuskan pada saat malam penganugerahan, Awarding Night Minikino Film Week 5, di hari Sabtu, 12 Oktober 2019.








[Read More...]


Siaran Pers Begadang Filmmaking Competition 2019, Bali



INILAH PARA PERAIH NOMINASI KOMPETISI BEGADANG NASIONAL 2019
Begadang Filmmaking Competition, sebuah kompetisi pembuatan film pendek berskala nasional yang unik, tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-3. Kompetisi ini dirancang oleh organisasi film pendek Minikino, untuk menantang para pesertanya membuat sebuah film pendek fiksi dalam waktu 34 jam saja. Pendaftarannya hanya dibuka untuk pemegang KTP atau Paspor Indonesia, alias harus berkewarganegaraan Indonesia. Begadang 2019 telah berlangsung pada tanggal 7 dan 8 September lalu. Kegiatan utama kompetisi ini adalah pembuatan film pendek yang dilakukan para peserta di lokasi yang tesebar di berbagai tempat di seluruh Indonesia, dan tahun ini, filmmaker Indonesia yang sedang tinggal di New York juga mendaftar untuk menjajal tantangan Begadang 2019.
Tahun ini, terdaftar 22 peserta yang berasal dari berbagai daerah, di antaranya; Medan, Gresik, Tangerang, Ponorogo, Banjarmasin, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Bali serta yang paling jauh adalah dari Williamsville, New York.
Setiap tahun, sebuah divisi yang disebut Posko Begadang dibentuk oleh Minikino. Posko Begadang khusus dibentuk untuk menjaga jalur komunikasi antar peserta dan panitia. Seluruh komunikasi dilakukan melalui surel dan media on-line lainnya termasuk media sosial yang dapat diikuti oleh masyarakat umum melalui akun IG @minikinoevents, dan tagar #begadang2019. Selain persyaratan memiliki tanda bukti kewarganegaraan, panitia juga menekankan kemampuan para peserta untuk fasih mengunakan internet dan berkomunikasi melalui surel, yang menjadi jalur komunikasi utama.
I Made Suarbawa selaku koordinator Posko Begadang menyatakan bahwa, tuntutan kemampuan berkomunikasi melalui email ini sengaja ditekankan, agar informasi bisa tersampaikan lengkap dan semuanya tersimpan sebagai arsip komunikasi. “Banyak jalur komunikasi yang tersedia, termasuk SMS dan pesan teks dengan mobile apps serta sosial media, namun kami yakin, komunikasi email ini yang mendorong kita semua untuk menggunakan bahasa surat yang lebih formal dan bertanggung jawab. Kemampuan ini suatu hal yang penting bagi filmmaker kita dalam merambah jaringan film dunia.” Terang Made.
Tantangan Manajemen Produksi Film
Bagaikan lomba lari, tepat pada tanggal 7 September jam 8 pagi WITA, Posko Begadang memberi aba-aba mulai dengan cara memberitakan persyaratan elemen audio visual, yang sebelumnya dirahasiakan. Persyaratan rahasia inilah yang menjaga agar seluruh peserta baru bisa mulai berkarya pada saat yang bersamaan.
Selanjutnya, selama 34 jam, dengan menggunakan elemen-elemen yang diumumkan semua peserta berlomba melakukan seluruh rangkaian produksi film. Ini benar-benar memulai dari pembuatan cerita, menuangkannya dalam perencanaan produksi, shooting, dan kemudian tentu saja editing, sampai proses mengirimkan film pendek yang sudah selesai kepada Posko Begadang melalui layanan on-line. Semua peserta berusaha menyelesaikannya dalam batas waktu yang ditentukan, karena tepat pada jam 6 sore WITA, film dari peserta harus sudah diterima di Posko Begadang agar masuk dalam penilaian dewan juri.
Selain tuntutan kreatifitas, kompetisi Begadang dirancang untuk menguji kemampuan manajemen produksi. Para peserta juga dituntut memperhatikan pembagian waktu kerjanya secara seksama, termasuk bersiap untuk kemungkinan-kemungkinan di luar rencana, yang hampir pasti terjadi dalam produksi film. Tidak sekedar prencanaan yang matang, namum juga tim kerja yang solid dan tahan banting. Ketika semua dalam keadaan lelah, kurang tidur karena menyelesaikan produksi dalam batas waktu yang sempit, emosi harus tetap dijaga.
Inilah Elemen Rahasia Begadang 2019
Edo Wulia yang ikut menjaga komunikasi di posko begadang menyatakan “Tahun ini, seperti biasa kami mengeluarkan elemen-elemen rahasia. Semuanya ada 4 poin, pertama, film harus memiliki karakter yang mendongak atau memandang ke atas, kemudian secara audio, penonton harus mendengar suara langkah kaki. Lalu dalam adegan harus terlihat angka 17. Dan terakhir, penonton harus melihat gerakan panning kamera, berputar sejauh 360 derajat.”
”Proses rancangan poin-poin rahasia ini memang sudah dibicarakan lebih awal, namun untuk menjaga keamanan kerahasiaannya, kami memutuskannya sampai 1 jam terakhir, saat elemen ini akan diberitakan kepada peserta. Jadi, saat jam 6 pagi, komite di posko baru mulai berdiskusi kembali dan segera memutuskannya, dan kemudian mengumumkannya. Perubahan keputusan poin-poin rahasia ini terjadi di menit-menit terakhir sebelum diumumkan, sehingga kita di posko Begadang sebetulnya sama-sama tegangnya dengan peserta. Tidak ada yang mengetahui elemen rahasia ini, bahkan panitia pun tidak tahu, dan hal ini menciptakan keseruannya sendiri untuk kami di posko.” Lanjut Edo.
Film Nominasi The Best Begadang 2019
Dari seluruh peserta, dipilih 4 (empat) karya finalis Begadang Filmmaking Competition. Barikut adalah daftar finalis tahun ini;
“SAPA”, pimpinan produksi; Dea Novita Anggraeni, Viertaint Creative Bali (Bali), dengan durasi film 4 menit 52 detik.
“PENDEKAR TAFSIR MIMPI”, pimpinan produksi; Jibran Alfandi Rachman, Small Time Pictures (Yogyakarta), durasi 4 menit 34 detik
“RAYUAN JIN DALAM BOTOL”, pimpinan produksi; I Gde Yudhi Hendrawan, BlackBox Movies (Bali), durasi 4 menit 38 detik
“THE SALUBRIOUS MONOTONY OF A LIVING DREAM”, pimpinan produksi; Azalia Muchransyah, CATastrophe Productions (New York), durasi 5 menit 5 detik.
Seluruh film hasil Begadang 2019, termasuk yang semuanya yang belum berhasil memenuhi target 34 jam produksi akan ditayangkan dalam pemutaran yang terbuka untuk umum, dalam rangkaian festival Minikino Film Week mendatang.
Para finalis tentu saja akan berlanjut ke meja penjurian, dan pengumuman pemenang utama akan dilakukan saat Closing Event Awarding Night MINIKINO FILM WEEK 5 – Bali, 12 Oktober 2019.



[Read More...]


Rilir Minikino: S-EXPRESS 2019 MASIH SATU-SATUNYA PENGHUBUNG FILM-FILM PENDEK SE-ASIA TENGGARA



S-Express; yang sampai tahun ke 17 tahun ini, masih merupakan satu-satunya ajang pertukaran film pendek se-Asia Tenggara. Tahun S-Express ini digelar kembali. Sebuah gerakan tahunan yang menjadi ajang pertukaran film dan informasi antar pembuat film pendek di negara-negara Asia Tenggara ini diinisiasi pada tahun 2002, diprakarsai oleh Yuni Hadi (Singapore), Amir Muhammad (Malaysia), dan Chalida Uabumrungjit (Thailand). Kemudian pada tahun 2003, Tintin Wulia yang pada masa itu sebagai direktur Minikino kemudian membawa Indonesia bergabung. Sejak saat itulah secara rutin setiap tahun, Minikino menyeleksi dan mengirimkan film-film pendek Indonesia untuk ikut serta dalam ajang ini.

Pada perkembangannya di tahun 2019, di dalam S-Express telah tergabung programmer dari sepuluh negara yang berasal dari Singapore, Thailand, Malaysia, Indonesia, Phillipines, Cambodia, Myanmar, Laos, Vietnam dan Brunei. Dalam proses programming tahun ini 7 film dari Indonesia telah resmi dipilih dan akan ikut berkeliling Asia tenggara dalam gerakan berjejaring yang unik ini. Adapun film-film pendek dari Indonesia yang terpilih dalam program S-Express 2019 Indonesia tahun ini ialah “Insanely Infatuated With Someone At The Most Inappropriate Time” karya sutradara Nirartha Bas Diwangkara, “Or Those Silence That Kills You and Me” karya Ismail Basbeth, “Llop Mougn” karya Oktivani Anggia Rachmalitta, “Muslimah” karya Nur Wulandari, t, “Roti” karya Kiki Febriyanti, dan “Life of Death” karya Jason Kiantoro dan Bryan Arfiandy.

Tujuh film pendek Indonesia istimewa ini akan diputar dalam bentuk sebuah program di berbagai festival film pendek di negara-negara Asia Tenggara. Draft jadwal pemutaran Program S-Express 2019 yang sudah direncanakan antara lain: Wathann Film Festival - Yangon, Myanmar 4 - 9 September 2019, Sea Short Film Festival - Malacca, Malaysia 25 - 29 September 2019, MINIKINO FILM WEEK 5: Bali International Short Film Festival tanggal 5-12 Oktober 2019, Thai Short Film and Video Festival-Bangkok, Thailand di bulan Desember 2019 dan Cambodia International Film Festival - Phnom Penh 9 - 14 Maret 2020. Selain daftar festival yang bergengsi di atas, S-Express Indonesia juga akan diusahakan menempuh jalur distribusinya sendiri dan akan menembus beberapa festival bergengsi lainnya yang lebih luas lagi.

Menurut Fransiska Prihadi selaku Direktur Program Minikino yang turun tangan langsung memilih film-film program S-Express 2019 Indonesia ini menjelaskan, “Kualitas film-film pendek Indonesia kian tahun kian meningkat. Baik dari segi penceritaan maupun teknis. Saya senang sekali melihat nama-nama baru dalam seleksi tahun ini” Programmer yang akrab dipanggil Cika ini menjelaskan “Situasi ini terjadi karena semakin terbukanya kesempatan dan kemudahan untuk melihat referensi literatur yang semakin luas. Selain yang dari jalur akademik, kesempatan juga jadi terbuka lebar untuk pembuat film yang bukan berasal dari sekolah film.” Kemudian tambahnya “Seleksi tahun ini juga jadi semakin beragam dengan adanya ajang pertukaran film nasional Indonesia Raja yang rutin diadakan tahunan. Gerakan ini membuka peluang bagi produksi-produksi daerah yang tadinya belum populer, untuk muncul ke permukaan dan berkesempatan untuk saling melihat dengan wilayah-wilayah yang sudah aktif berproduksi.”

Minikino sebagai organisasi yang berfokus pada film pendek, terus menjalankan misinya untuk tanpa henti mendorong karya-karya film pendek Indonesia agar semakin baik lagi. Strategi unik yang dijalankan justru bukan dengan mendorong jumlah produksinya, namun dengan mempertemukan film-film pendek ini kepada penonton yang nyata sebanyak mungkin. Yang dimaksud dengan penonton yang nyata adalah penonton yang benar-benar rela meluangkan waktunya untuk hadir dan menonton bersama-sama, dalam ajang pemutaran film yang menggunakan layar dan tata suara yang dipersiapkan secara sungguh-sungguh.

Pada akhirnya misi ini jugalah yang mendasari semua kerja yang telah dilakukan Minikino selama 17 tahun sejak 2002, dan tetap menjadi acuan rancangan kerja di tahun-tahun mendatang. Minikino juga terus memperkuat jaringan kerja globalnya dengan badan-badan kerja di seluruh dunia yang memiliki visi dan misi yang serupa. S-Express hanyalah salah satu dari sekian banyak langkah yang dianggap efektif untuk mendukung misi ini.



[Read More...]


WORKSHOP PENULISAN SKENARIO FILM



LATAR BELAKANG

Skenario adalah unsur yang paling penting dalam sebuah produksi film (televisi) karena merupakan unsur yang dibutuhkan paling awal sebagai rancangan untuk membuat film. Dengan sebuah skenario yang baik, sebuah film telah selesai dibuat dalam bentuk tertulis. Berpuluh dan berbelas tahun dunia penulisan skenario Indonesia dipandang sebagai karya kreatif yang sangat eksklusif dan tidak mudah untuk mempelajarinya. Lalu pada era lahirnya film-film drama yang dirilis Televisi Swasta Lokal seperti Rumah Masa Depan, Losmen, Aku Cinta Indonesia dan beberapa karya monumental seperti Den Baguse Ing Ngarso, mulailah proses penulisan skenario drama dipandang sebagai sesuatu yang sangat serius. Informasi tentang bagaimana menulis skenario secara profesional menjadi sebuah pengetahuan kreatif yang tumbuh di masyarakat. Sebagian Masyarakat yang terinspirasi akan produk-produk tayangan televisi, tertarik untuk sumbang pikiran dan ikut serta membuat ide pembuatan tayangan televisi.
Lalu di era bermunculan televisi swasta yang bersiaran nasional, dunia penulisan skenario menemui kejayaan , ketika Televisi Swasta berkolaborasi dengan Rumah Produksi untuk menampilkan serial drama sinetron. Produksi sinetron drama televisi meledak mencapai 5000 tayangan per tahun. Dengan asumsi, 7 stasiun televisi swasta Nasional yang menayangkan tayangan acara drama secara tetap, setiap stasiun TV menayangkan 4 kali tayangan drama (sinetron, sitkom, FTV, Serial dll.)
Dengan asumsi, minimal honor 1 skenario sinetron dibayarkan sebesar Rp. 2 juta rupiah, berarti ada uang berputar minimal Rp. 10 milyar pertahun untuk membayar honor para penulis. Lalu, berapa jumlah penulis skenario aktif di Indonesia? Seorang penulis skenario aktif, rata-rata membuat 4-5 skenario per bulan, dengan penghasilan rata-rata antara 8-10 juta rupiah perbulan. Dan itu pendapatan minimal! Maka, apabila menggunakan asumsi tersebut, terdapat sekitar 100 penulis drama aktif dengan tingkat produksi per tahun rata-rata 40-50 skenario per tahun.
Acara televisi tidak semuanya menyajikan tayangan drama, Ada juga tayangan realty show , Variety show dan tayangan-tayangan non drama lainnya seperti NEWS, Music dan Olahraga. Tayangan tersebut juga membutuhkan penulisan naskah yang melibatkan ratusan penulis setiap tahun. Bayangkan, saat ini ada 11 stasiun televisi nasional yang bersiaran rata-rata 18 jam per hari. Tayangan drama hanya ditayangkan di 7 stasiun televisi. Sisanya, stasiun televisi yang hanya berfokus pada SPORT, MUSIC dan NEWS. Berarti ada ratusan penulis skenario dan penulis naskah non drama yang menceburkan diri di bidang ini.
Tumbuhnya Semangat Menulis Skenario secara massal baru terbuka secara luas ketika film layar lebar “Ada Apa dengan Cinta?” karya Miles Film dijadikan produk buku skenario cetaknya. Buku ini ditulis oleh Jujur Prananto yang merupakan penulis skenario dari film yang sama. Maka, sejak saat itu, gairah anak muda yang ingin terjun di dunia perfilman dalam penulisan skenario khususnya tumbuh secara serentak.
Kesuksesan sebuah Film yang digarap tidak terlepas dari sebuah cerita yang baik dan berkualitas. Cerita film disusun atau dibentuk sedemikian rupa kemana dan bagaimana cerita ini berjalan dan agar menjadi sebuah karya film yang utuh dan layak tonton. Skenario adalah unsur yang paling penting dalam sebuah produksi film (televisi) karena merupakan unsur yang dibutuhkan paling awal sebagai rancangan untuk membuat film. Dengan sebuah skenario yang baik, sebuah film telah selesai dibuat dalam bentuk tertulis. Dan dari sebuah skenario ini lah sebuah karakteristik seorang pemain bisa di bentuk, penentuan alur cerita, setting, penokohan dan lain sebagainya hingga menjadi sebuah film yang utuh yang berkualitas.
Oleh karena itu Lensa Creatifilm (Komunitas Film Cianjur) bekerja sama dengan Komite Film Dan Multimedia - DKC akan mengadakan Workshop Penulisan Skenario Film tersebut di beberapa sekolah di Cianjur, termasuk workshop yang diperuntukan bagi Guru SMA/SMP. Dan sebagai evaluasi dari workshop tersebut telah diadakan Festival Film Pendek ‘Pare Award’ di Dewan kesenian Cianjur.

MAKSUD DAN TUJUAN
1. Memberikan pelatihan (workshop) kepada para penulis muda yang berminat menekuni dunia perfilman.
2. Merangsang kreatifitas para penulis muda agar kerja kreatifnya lebih terarah dan dapat menghasilkan karya film yang berkualitas.
3. Memberikan pembekalan menjelang diadakannya Festival Film di Cianjur khususnya.
4. Memfasilitasi dan memberikan ruang ekspresi kepada para penulis muda agar dapat mempresentasikan hasil kerja kreatifnya menjadi sebuah karya film yang lebih luas.


NAMA dan TEMA KEGIATAN
Nama Kegiatan ini adalah “Workshop Penulisan Skenario Film”.
Dengan Tema “Insan Kreatif dan Inovatif Sebagai Garda Terdepan Dalam Perubahan, Bergerak Bersama Membangun Moral Bangsa”.

SASARAN PESERTA
Adapun peserta dalam kegiatan ini adalah :
1. Pelajar SMP, SMA/SMK/MA Sederajat di Kabupaten Cianjur dan sekitarnya.
2. Mahasiswa, Guru se-Kabupaten Cianjur dan sekitarnya.
3. Para Penulis dari kalangan Umum di kabupaten Cianjur dan sekitarnya.

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Workshop Penulisan Skenario Film ini akan di laksanakan pada :
Hari : Sabtu - Minggu
Tanggal : 18 – 19 Juni 2011
Pukul : 08.00 s/d 16.00 WIB
Tempat : Bale Seni – Dewan Kesenian Cianjur
Jl. Suroso No. 46 Cianjur 43214

BIAYA PENDAFTARAN
Setiap Peserta Workshop Penulisan Skenario Film dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp. 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah) dan wajib mengisi Formulir pendataran. Formulir Pendaftaran bisa di download bagian download Formulir pada Menu diatas.

WAKTU PENDAFTARAN
Pendaftaran di buka mulai tanggal 20 Mei – 17 Juni 2011 di Sekretariat LENSA Creatifilm - Bale Seni Cianjur, Jl. Suroso No 46 Cianjur 43214. Setiap hari kerja mulai pukul 09.00 s/d 16.00 WIB.

SYARAT PESERTA
- Mengisi Formulir pendaftaran
- Meyerahkan Pas Photo berwarna ukuran 3 X 4 2 (dua) Lembar
- Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah)

MATERI WORKSHOP
- Pengenalan Skenario Film.
- Jenis-jenis Skenario.
- Dasar - Dasar Penulisan Skenario.
- Teknik Penulisan Skenario Film Cerita.
- Teknik Penulisan Skenario Film Dokumenter.
- Strategi Pemasaran Skenario Film.

PEMATERI
- Komite Film dan Multimedia - Dewan Kesenian Cianjur (DKC)
- Agres Setiawan – KampoengKreatif Jakarta.

KEPANITIAAN
Pembina : Sutardy Mahesa
Ketua Pelaksana : Saeful Adha
Wakil : Saepul Bahri
Sekretaris : Agus Rustandi, S.Pd
Bendahara : Insi Kembara Senjani M.
Sie. Acara : Tati Rohmawati
Indriani Rahmah S.
Sie. Dokumentasi : Tedy CH.
M. Pijar Senjakala
Sie. Humas : Nurdin Al Azies
Ridwan Arifin
Sie. Konsumsi : Ligar S. Marthesa
Ega Swasta


PENYELENGGARA
Komite Film dan Multimedia Dewan Kesenian Cianjur bersama dengan LENSA Creatifilm (Lingkung Edukasi Sinematografi) Cianjur.

Sekretariat :
LENSA Creatifilm - Bale Seni Cianjur (DKC)
Jl. Suroso No. 46 Cianjur 43214 Tlp. (0263) 281028
Contact Person : Saeful Bahri 085759509184, Ayah 085793257681
Web : www.lensacreatifilm.com, Facebook : LENSA
[Read More...]


PARE AWARD 4 DI www.radarsukabumi.com



Senin, 17 Januari 2011 , 02:18:00

PARE AWARD IV Resmi Ditutup
Pelajar Cianjur Hanya Sabet Satu Penghargaan

CIANJUR- Festival Film Pendek dan Film Dokumenter PARE AWARD IV di gedung Dewan Kesenian Cianjur (DKC), Sabtu (15/1) malam berakhir sukses. Festival yang diikuti puluhan pelajar dari Cianjur, Sukabumi, Bogor dan Tangerang Selatan itu digelar untuk mencari bibit sineas dari daerah yang memiliki bakat dan potensi. Ketua Komite Film dan Multimedia DKC sekaligus penanggung jawab PARE AWARD IV, Sutardi Mahesa mengatakan, pelaksanaan festival film pendek dan film dokumenter telah berlangsung sejak tanggal 7 Januari 2011 hingga 11 Januari 2011 lalu.

Sejak dirintis empat tahun lalu, PARE AWARD, pesertanya selalu bertambah menjalar hingga ke kota lain selain Cianjur dan gaungnya sudah dikenal di beberapa propinsi, katanya, kemarin. Menurutnya, festival ini dirintis pertama kali empat tahun lalu oleh Komite Film dan Multimedia Dewan Kesenian Cianjur. Ketika itu, hanya diikuti para pelajar dari beberapa sekolah menengah atas di Cianjur.

Namun kini, setiap tahun pesertanya terus bertambah hingga diikuti dari pelajar dan mahasiswa , ujarnya. Dia menjelaskan, acara penganugrahan malam tersebut dibuat seperti pengumunan penghargaan sejenis tingkat nasional. Yaitu dihiasi oleh penampilan sejumlah mahasiswi berparas cantik yang tampil bergantian mengumumkan para nominator sekaligus diadakan pemutaran cuplikan film yang masuk nominasi. Selanjutnya, ia merinci perolehan juara festival ini. Di antaranya, untuk film penulis skenario terbaik diraih para pelajar dari SMA Plus PGRI Cibinong Kabupaten Bogor berjudul ‘Bibir Si Asnun’. Tata kamera terbaik diraih pelajar SMAN 2 Kota Cianjur dengan judul ‘Cita-citanya Untukku’. Katagori penata artistik terbaik diraih pelajar SMAN Plus PGRI Cibinong Kabupaten Bogor untuk film ‘Bibir Si Asnun’ dan lainnya. Sementara itu, Ketua Umum Dewan Kesenian Cianjur (DKC) Andri Kartanegara, menyatakan setiap tahunnya jumlah film yang dilombakan jumlahnya mencapai puluhan,. Kendati seluruh dewan juri seluruhnya dari Cianjur ia menjamin tidak ada keberpihakan kepada salah satu peserta. Mudah-mudahan kedepannya festival ini lebih meningkat baik dari jumlah peserta dan bantuan dana dari berbagai pihak, imbuhnya.(den)

Sumber: http://www.radarsukabumi.com
[Read More...]


PARE AWARD 4 DI www.antarajawabarat.com



"PARE AWARD" HARAPKAN PERHATIAN PEMKAB CIANJUR


Cianjur, 16/1 (ANTARA)- Kalender akbar tahunan Festival Film Pendek dan Dokumenter "Pare Award IV", Dewan Kesenian Cianjur (DKC), Jabar, mengharapkan mendapat perhatian pemerintah setempat.

Festival tahunan yang telah digelar sejak empat tahun terakhir itu, (Sabtu 15/1) kembali di gelar di gedung DKC di Jalan Suroso, Cianjur. Sejumlah pemenang telah diumumkan dan berhak mendapatkan penghargaan.

Namun festival yang diikuti peserta kalangan pelajar dari wilayah berbagai kota dan kabupaten, diantaranya, Cianjur, Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, dan Tangerang Selatan, minim perhatian dari Pemkab Cianjur.

"Sejak dirilis empat tahun lalu, event Pare Award, belum pernah mendapatkan perhatian Pemkab Cianjur. Sedangkan gaungnya sudah dikenal dibeberapa propinsi," kata Sutardi Mahesa, Ketua Komite Film dan Multimedia DKC sekaligus Penanggungjawab Pare Award IV, Minggu.

Bahkan tutur dia, secara rutin Pare Award, setiap tahun digelar dengan jumlah peserta yang selalu bertambah. Dia menuturkan, festival ini dirintis pertama kali empat tahun lalu oleh Komite Film dan Multimedia Dewan Kesenian Cianjur (DKC).

Semula hanya diikuti para pelajar dari beberapa sekolah menengah atas di Cianjur. Namun setiap tahun, pesertanya terus bertambah hingga diikuti pelajar dan mahasiswa dari beberapa kota dan kabupaten di Jawa Barat.

Sedangkan acara malam penganugerahan tahun 2010, diisi dengan agenda pengumuman penghargaan sejenis, tingkat nasional dan diwarnai penampilan apik sejumlah mahasiswi.

Mereka tampil bergantian mengumumkan nominator sekaligus diadakan pemutaran cuplikan film yang masuk nominasi.

Tahun ini, kata dia, untuk Penulis Skenario Terbaik diraih pelajar dari SMA Plus PGRI Cibinong, Kabupaten Bogor, berjudul "Bibir Si Asnun".

Tata Kamera Terbaik, diraih pelajar SMAN 2 Kota Cianjur, dengan judul "Cita-citanya Cita-citaku". Kategori Penata Artistik Terbaik, diraih pelajar SMAN Plus PGRI Cibinong, Bogor, untuk film "Bibir Si Asnun".

Kategori editing terbaik diraih Andika dan Haqis pelajar SMAN 2 Kabupaten Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dengan film berjudul "Skenario".

Kategori Penata Musik Terbaik, diraih Raudina Ramanu dan Amalia Riyanda pelajar SMAN 2 Tangerang Selatan, Banten, dengan film "Indonesia Jaya".

Sutradara Terbaik diraih, Adlino Dananjaya pelajar SMA Plus PGRI Cibinong, Bogor, dengan film berjudul "Bibir Si Asnun".

Sedangkan Pemeran Wanita Terbaik diraih Mela, pelajar SMAN I Cianjur, dalam film berjudul "Maybe". Pemain Pria Terbaik diraih Jaya, pelajar SMAN 2 Tangerang Selatan, Banten, Pemeran Pembantu Terbaik diraih Euis Kusdiningsih, pelajar SMAN 2 Cianjur dalam film "Cita-citanya Cita-citaku".

Dalam kesempatan tersebut dewan juri yang dipimpin George Armand, mengumumkan Film Terbaik ke I diraih SMA Plus PGRI Cibinong, Bogor dengan film berjudul "Bibir Si Asnun".

Terbaik ke-2 diraih pelajar SMAN 2 Tangerang Selatan, Banten dengan film "Indonesia Jaya". Terbaik ke- 3 diraih SMAN 2 Tangerang Selatan dengan film berjudul "Skenario".

Sementara itu Ketua Umum DKC, Andri Kartanegara mengaku, setiap tahunnya jumlah film yang dilombakan mencapai puluhan.

Meskipun selama ini, dewan juri seluruhnya berasal dari Cianjur, dia menjamin netralitas juri, tidak berpihak pada salah satu peserta terutama yang berasal dari Cianjur.

"Harapan kami, Bupati dan Wakil Bupati Cianjur, kedepannya, dapat menyempatkan diri memperhatikan kegiatan ini, sebab selama ini kegiatan seni dan budaya masih dianggap agenda pilihan," pintanya.

Fikri



COPYRIGHT © 2010 ANTARAJAWABARAT
PubDate: 22/Jan/2011 12:31
http://www.antarajawabarat.com/lihat/cetak/29862
[Read More...]


PARE AWARD 4 DI cianjurkab.go.id



PARE AWARD IV Berakhir Sukses
18 Januari 2011, 08:41 WIB
Sebuah karya film adalah karya seni kolektif karena karya seni ini melibatkan berbagai karya seni lainnya seperti musik, unsur cerita, seni peran, editing, fotografer, make up, sutradara dan lainnya. Terkait dengan ini, merupakan kebanggaan bagi Kabupaten Cianjur karena baru saja sebagai penyelenggara Pare Award ke-4 yang diikuti oleh puluhan pelajar dari Cianjur, Sukabumi, Bogor dan Tanggerang Selatan. Festival Film Pendek dan Film Dokumenter "PARE AWARD IV" digelar diantaranya untuk mencari bibit sineas dari daerah yang memiliki bakat dan potensi. Kegiatan ini baru saja berakhrir dan ditutup belum lama ini yang dipusatkan di gedung Dewan Kesenian Cianjur (DKC) serta berakhir sukses. 

Ketua Komite Film dan Multimedia DKC sekaligus penanggungjawab PARE AWARD IV, Sutardi Mahesa mengatakan, pelaksanaan festival film pendek dan film dokumenter telah berlangsung sejak tanggal 7 Januari 2011 hingga 11 Januari 2011 lalu. Sejak dirintis, PARE AWARD empat tahun lalu, pesertanya selalu bertambah menjalar hingga ke kota lain selain Cianjur dan gaungnya sudah dikenal di beberapa provinsi. Festival ini dirintis pertama kali empat tahun lalu oleh Komite Film dan Multimedia Dewan Kesenian Cianjur. Ketika itu, hanya diikuti para pelajar dari beberapa sekolah menengah atas di Cianjur. Namun sekarang setiap tahun pesertanya terus bertambah hingga diikuti oleh pelajar dan mahasiswa.

Dijelaskan pula acara penganugrahan malam tersebut dibuat seperti pengumuman penghargaan sejenis tingkat nasional. Yaitu dihiasi oleh penampilan sejumlah mahasiswi berparas cantik yang tampil bergantian mengumumkan para nominator sekaligus di adakan pemutaran cuplikan film yang masuk nominasi.

Ketua Umum Dewan Kesenian Cianjur (DKC) Andri Kartanegara, menyatakan setiap tahunnya jumlah film yang dilombakan jumlahnya mencapai puluhan. Kendati seluruh dewan juri seluruhnya dari Cianjur, ia menjamin tidak ada keberpihakkan kepada salah satu peserta. Mudah-mudahan ke depannya festival ini lebih meningkat baik dari jumlah peserta dan bantuan dana dari berbagai pihak.

Adapun perolehan juara diantaranya, untuk film penulis skenario terbaik diraih para pelajar dari SMA Plus PGRI Cibinong Kabupaten Cianjur dengan judul "Cita-citanya Untukku" . Katagori penata artistik terbaik diraih pelajar SMAN Plus PGRI Cibinong Kabupaten Bogor untuk film "Bibir Si Asnun" dan lainnya.
Sumber:
http://cianjurkab.go.id/berita-daerah/1405/pare-award-iv-berakhir-sukses.html
[Read More...]


PARE AWARD 4 DI www.investor.co.id



Pare Award Harapkan Perhatian Pemkab Cianjur
Senin, 17 Januari 2011 | 11:50

CIANJUR-Kalender akbar tahunan Festival Film Pendek dan Dokumenter "Pare Award IV", Dewan Kesenian Cianjur (DKC), Jabar, mengharapkan mendapat perhatian pemerintah setempat.

Festival tahunan yang telah digelar sejak empat tahun terakhir itu, (Sabtu 15/1) kembali di gelar di gedung DKC di Jalan Suroso, Cianjur. Sejumlah pemenang telah diumumkan dan berhak mendapatkan penghargaan.

Namun festival yang diikuti peserta kalangan pelajar dari wilayah berbagai kota dan kabupaten, diantaranya, Cianjur, Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, dan Tangerang Selatan, minim perhatian dari Pemkab Cianjur.

"Sejak dirilis empat tahun lalu, event Pare Award, belum pernah mendapatkan perhatian Pemkab Cianjur. Sedangkan gaungnya sudah dikenal dibeberapa propinsi," kata Sutardi Mahesa, Ketua Komite Film dan Multimedia DKC sekaligus Penanggungjawab Pare Award IV, Minggu (16/1).

Bahkan tutur dia, secara rutin Pare Award, setiap tahun digelar dengan jumlah peserta yang selalu bertambah. Dia menuturkan, festival ini dirintis pertama kali empat tahun lalu oleh Komite Film dan Multimedia Dewan Kesenian Cianjur (DKC).

Semula hanya diikuti para pelajar dari beberapa sekolah menengah atas di Cianjur. Namun setiap tahun, pesertanya terus bertambah hingga diikuti pelajar dan mahasiswa dari beberapa kota dan kabupaten di Jawa Barat.

Sedangkan acara malam penganugerahan tahun 2010, diisi dengan agenda pengumuman penghargaan sejenis, tingkat nasional dan diwarnai penampilan apik sejumlah mahasiswi.

Mereka tampil bergantian mengumumkan nominator sekaligus diadakan pemutaran cuplikan film yang masuk nominasi.

Tahun ini, kata dia, untuk Penulis Skenario Terbaik diraih pelajar dari SMA Plus PGRI Cibinong, Kabupaten Bogor, berjudul "Bibir Si Asnun".

Tata Kamera Terbaik, diraih pelajar SMAN 2 Kota Cianjur, dengan judul "Cita-citanya Cita-citaku". Kategori Penata Artistik Terbaik, diraih pelajar SMAN Plus PGRI Cibinong, Bogor, untuk film "Bibir Si Asnun".

Kategori editing terbaik diraih Andika dan Haqis pelajar SMAN 2 Kabupaten Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dengan film berjudul "Skenario".

Kategori Penata Musik Terbaik, diraih Raudina Ramanu dan Amalia Riyanda pelajar SMAN 2 Tangerang Selatan, Banten, dengan film "Indonesia Jaya".

Sutradara Terbaik diraih, Adlino Dananjaya pelajar SMA Plus PGRI Cibinong, Bogor, dengan film berjudul "Bibir Si Asnun".

Sedangkan Pemeran Wanita Terbaik diraih Mela, pelajar SMAN I Cianjur, dalam film berjudul "Maybe". Pemain Pria Terbaik diraih Jaya, pelajar SMAN 2 Tangerang Selatan, Banten, Pemeran Pembantu Terbaik diraih Euis Kusdiningsih, pelajar SMAN 2 Cianjur dalam film "Cita-citanya Cita-citaku".

Dalam kesempatan tersebut dewan juri yang dipimpin George Armand, mengumumkan Film Terbaik ke I diraih SMA Plus PGRI Cibinong, Bogor dengan film berjudul "Bibir Si Asnun".

Terbaik ke-2 diraih pelajar SMAN 2 Tangerang Selatan, Banten dengan film "Indonesia Jaya". Terbaik ke- 3 diraih SMAN 2 Tangerang Selatan dengan film berjudul "Skenario".

Sementara itu Ketua Umum DKC, Andri Kartanegara mengaku, setiap tahunnya jumlah film yang dilombakan mencapai puluhan.

Meskipun selama ini, dewan juri seluruhnya berasal dari Cianjur, dia menjamin netralitas juri, tidak berpihak pada salah satu peserta terutama yang berasal dari Cianjur.

"Harapan kami, Bupati dan Wakil Bupati Cianjur, kedepannya, dapat menyempatkan diri memperhatikan kegiatan ini, sebab selama ini kegiatan seni dan budaya masih dianggap agenda pilihan," pintanya. (ant/hrb)


Sumber:
http://www.investor.co.id/bookandcinema/pare-award-harapkan-perhatian-pemkab-cianjur/3216
[Read More...]


PARE AWARD 4




LATAR BELAKANG

Budaya ‘Film Indie’ merupakan budaya baru dalam perkembangan sinema Indonesia saat ini. Gerakan itu muncul dari kaum muda yang ingin menyampaikan gagasan kreatifnya melalui media audio visual, berupa film. Budaya baru di kalangan muda ini berkembang karena didukung oleh kemajuan teknologi multimedia dan kemudahan untuk mendapatkan serta menggunakannya dewasa ini.

Tidak terkecuali di Cianjur, budaya baru pembuatan film indie tersebut tumbuh dan berkembang, baik di lingkungan pelajar, mahasiswa dan umum. Beberapa sekolah bahkan telah menjadikan kegiatan sinematografi sebagai kegiatan ekstra dan intrakurikuler bagi siswa siswinya. Untuk ikut serta dalam mengembangkan budaya film indie di Cianjur, Lensa Creatifilm Cianjur dalam 3 (tiga) tahun terakhir ini menyelenggarakan Festival Film Pendek Cianjur yang bertajuk “PARÉ AWARD“.

Sebagai event festival film pendek satu-satunya di Cianjur saat ini, penyelenggaraan event ini selalu mengalami peningkatan, baik dari segi jumlah peserta maupun kualitas karya-karya film pendek yang diikutsertakan. Meskipun dibuat oleh para pembuat film muda, diantaranya pelajar, namun karya mereka telah menunjukan kualitas yang cukup baik untuk tingkat pembuat film pemula.

Melalui event ini diharapkan dapat melahirkan sineas-sineas baru yang berkualitas dan menciptakan kantung-kantung budaya perfilman di daerah, tidak selalu terpusat di kota-kota besar seperti yang selama ini terjadi. Gagasan penyelenggaraan event ini bermuara kepada terciptanya perkembangan perfilman khususnya film indie di Cianjur, Bogor, Sukabumi, Tangerang, Banten yang diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk perkembangan film Indonesia.

TARGET YANG DI HARAPKAN

·        Berkembangnya budaya film indie dikalangan pelajar baik dari kualitas maupun jumlah komunitasnya.
·        Terseleksinya karya-karya terbaik yang diharapkan dapat diikutkan dalam event yang lebih luas
·       Terciptanya ruang ekspresi dan budaya kreatif dalam mengungkapkan gagasan kreatifnya ke dalam media film.

TEMA
“FREEDOM MOVIE BY POSITIVE MIND”

KATEGORI PESERTA, FILM DAN NOMINASI
·         Peserta adalah:
1. Pelajar SMP, SMA/SMK/MA Sederajat
2. Mahasiswa
3. Masyarakat/Umum
Se- Wilayah II Bogor (Cianjur, Bogor, Sukabumi) dan Banten (Tangerang-Banten)

·         Kategori Film yang dilombakan:
1. Film Cerita Durasi 10 Menit (termasuk opening dan credit title)
2. Film Dokumenter Durasi 10 Menit (termasuk opening dan credit title)

TEKNIS PELAKSANAAN
·         Seminar Pendidikan dan Sinematografi
Pelaksanaan: Sabtu, 4 Desember 2010
Waktu : 09:00 s/d 13:00 WIB
Tempat : Bale Seni – Dewan Kesenian Cianjur

·         Screening (Pemutaran Film)
Film yang diputar adalah film peserta Festival Film PARE AWARD 4 yang telah diseleksi oleh Dewan Juri. Pembuat Film yang lolos seleksi dan diputar, WAJIB hadir dalam pemutaran.
Pelaksanaan: Sabtu dan Minggu, 11, 12 dan 13 Januari 2011
Waktu : 09:00 s/d 17:00 WIB (setiap harinya)
Tempat : Bale Seni – Dewan Kesenian Cianjur

·         Malam Penganugerahan Festival Film
Hari, Tanggal : Sabtu, 15 Januari 2011
Waktu : 19:00 s/d selesai
Tempat : Bale Seni – Dewan Kesenian Cianjur


PENYELENGGARA
LENSA Creatifilm (Lingkung Edukasi Sinematografi) bersama
Komite Film dan Multimedia Dewan Kesenian Cianjur, MAV-NET, Senat FIKOM UNPI Cianjur


KETENTUAN FESTIVAL FILM
1.         Pendaftaran dibuka mulai 12 Oktober 2010 sampai dengan 5 Januari 2011
2.        Peserta adalah PELAJAR SMP/SMA/SMK/MA Se-Derajat dan MAHASISWA Se-Wilayah II Bogor (Cianjur, Sukabumi, Bogor), Tangerang dan Banten.
3.        Tema “FREEDOM MOVIE BY POSITIVE MIND” ; dan tidak melecehkan unsur kesukuan, agama, ras dan golongan/kelompok (SARA).
4.       Apabila karya menggunakan dialog/narasi bahasa daerah, maka harus diberi subtitle bahasa Indonesia.
5.        Durasi maksimal 10 (sepuluh) menit.
6.       Registrasi Film Rp. 100.000,-/ judul film.
7.        Karya film dikirimkan dalam 1 paket, berisi :
·         Master Film : Berisi 2 Keping DVD Film, Case DVD + Cover DVD Film.
·         Data Film : Video dalam format data AVI.
·         CD Data : Berisi Softcopy Sinopsis, Photo Produksi, Poster A3 (Format JPEG)
8.       Karya yang dikirimkan belum pernah di lombakan.
9.       Tiap peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) karya.
10.     Wajib mengirimkan poster Film ukuran A3.
11.    Musik/lagu dan materi lainnya (foto, kliping, grafis, dll) yang digunakan dalam film tidak boleh menggunakan milik orang lain, kecuali ada ijin tertulis dari pembuatnya.
12.     Setelah seluruh peserta menyerahkan hasil karya produksi. Tim Juri mengadakan penilaian tertutup terhadap film yang masuk sebagai peserta.
13.      Dalam penilaian tersebut akan dipilih beberapa bidang penilaian untuk masing-masing kategori film cerita.
14.     Keputusan juri adalah mutlak, tidak bisa diganggu gugat.

SEKRETARIAT PENYELENGGARA
Panitia “PARE AWARD 4”
LENSA CREATIFILM Cianjur
Jl. Suroso No. 46 Cianjur Tlp. 0263-281028
CP : Saeful Adha : 085711479942, SB : 058759509184
Web : www.lensacreatifilm.com dan www.mav-net.com
 Email : adhafilm@gmail.com


[Read More...]


 
Return to top of page Copyright © 2010 | Lensa Creatifilm Converted into Blogger Template by HackTutors